Jumat, 29 April 2016

Makalah tentang Ansietas


Ansietas ?? pasti  masih bingung dengan penyakit ini kan? masalahnya, kita semua jarang menemui orang dengan penyakit ini, di negara maju penyakit ini banyak ditemui, walaupun di Indonesia jarang terjadi, akan lebih baik lagi kalau kita juga mengetahui apa itu ansietas, faktor penyebabnya, tingkat ansietas dan gejala-gejala penderita ansietas. Sebagai calon apoteker, kita juga harus mengetahui, mekanisme kerja obat serta golongan-golongan antiansietas, selain itu obat-obatan yang dapat menyembuhkan ansietas.
… langsung saja ya..
Latar belakang
Ansietas bisa dialami siapa saja dari latar belakang sosial, budaya maupun ekonomi. Selain itu ansietas dapat menyerang lanjut usia, wanita, pria remaja dan dewasa bahkan anak-anak sekalipun. Ansietas adalah perasaan yang dialami ketika terlalu mengkhawatirkan kemungkinan peristiwa yang menakutkan yang terjadi di masa depan yang tidak bisa dikendalikan jika itu terjadi, dan akan dinilai sebagai ‘mengerikan’, atau dapat mengungkapkan bahwa kita adalah orang yang benar-benar tidak mampu menata pikiran diri sendiri.
Pada dasarnya seluruh manusia itu dalam keadaan seimbang, namun dalam hidup pasti ada masalah yang harus dihadapi, ada yang diterima dengan baik adapula yang harus diproses, bahkan ditolak. Namun, masalah tak dapat ditolak tetapi pikiran ingin menolak itulah yang menyebabkan cemas, stres sampai depresi. Fenomena belakangan ini di kota-kota besar, bahkan di Negara maju terutama Indonesia menunjukkan peningkatan tajam terhadap perilaku cemas yang berlebihan atau ansietas, hal ini kelihatannya disebabkan oleh kondisi ekonomi negara kita yang masih belum stabil, sehingga semakin banyak orang yang mengalami kecemasan, stres, sampai depresi.
Menurut penelitian kecenderungan pengidap gangguan jiwa meningkat, hal ini dapat dilihat dari data  Bank Dunia pada 1995. Disebutkan bahwa telah terjadi  kehilangan hari-hari produktif (disability adjusted life years) di beberapa negara, sebesar 8,1 % dari total Global Burden Disease akibat gangguan kesehatan jiwa. Angka ini tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan penyakit lain seperti tuberculosis (7,2 %), kanker (5,8%), penyakit jantung (4,4 %) maupun malaria (2,6%). Gangguan kecemasan diperkirakan mengidap 1 dari 10 orang. Menurut data National Institute of Mental Health (2005) di Amerika Serikat terdapat 40 juta orang mengalami gangguan kecemasan pada usia 18 tahun sampai pada usia lanjut (Anonim1, 2009).
Obat-obatan yang digunakan untuk menekan ansietas sudah berkembang sejak 1950  hingga sekarang. Hingga kini, antiansietas masih merupakan penangkal utama, baik yang memiliki aksi tunggal maupun ganda.
Definisi Ansietas
Ansietas merupakan satu keadaan yang ditandai oleh rasa khawatir disertai dengan gejala somatik yang menandakan suatu kegiatan berlebihan dari susunan saraf autonomic (SSA). Ansietas merupakan gejala yang umum tetapi non-spesifik yang sering merupakan satu fungsi emosi. Sedangkan depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri. Keadaan dimana individu/kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivasi system syaraf autonom dalam berespons terhadap ancaman tidak jelas, non spesifik (Ashadi, 2008).
Cemas atau ansietas merupakan reaksi emosional terhadap penilaian dari stimulus. Keadaan emosi ini biasanya merupakan pengalaman individu yang subyektif, yang tidak diketahui secara khusus penyebabnya. Ansietas berbneda dengan takut. Takut adalah penilaian intelektual dari stimulus yang mengancam dan obyeknya jelas. Individu tersebut dapat menggambarkan sumber dari rasa takut. Ansietas dapat merupakan suatu sumber kekuatan dan energinya dapat menghasilkan suatu tindakan yang destruktif atau konstruktif (Wahid, 2008).
Ansietas adalah suatu ketegangan yang tidak menyenangkan, rasa takut, gelisah rasa takut yang mungkin timbul dari penyebab yang tidak diketahui. Keadan ansietas ini merupakan gangguan mental yang sering dijumpai. Gejala ansietas berat serupa dengan takut (seoerti takikardi, berkeringat, gemetar, palpitasi) dan aktivitas simpatik. Episode ansietas ringan merupakan pengelaman hidup yang biasa dan tidak memerlukan pengobatan. Tetapi bila gejala ansietas cukup berat, kronis, mengganggu aktivitas sehari-hari, perlu diobati dengan obat anti-ansietas (kadang-kadang disebut ansiolotik atau tranquilizer minor), dan/atau bentuk lain terapi psikologik/tingkah laku. Karena semua obat ansietas menyebabkan sedasi, obat yang sama dalam klinik sering berguna sebagai ansiolotik dan hipnotik (menyebabkan tidur). Terdapat 5 varian ansietas yang sering ditemukan, yaitu:
1.     Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, yaitu Generalized Anxiety Disorder (GAD)
2.     Panic Disorder (PD)
3.     Social Anxiety Disorder (SAD)
4.     Obsessive Compulsive Disorder (OCD)
5.     Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) (Harkness, 1989).
Ansietas terutama berguna untuk pengobatan simtomatik penyakit psikoneurosis dan berguna sebagai obat tambahan pada terapi penyakit somatik yang didasari penyakit ansietas (perasaan cemas) dan ketegangan mental. Penggunaan ansietas dosis tinggi jangka lama, dapatmenimbulkan ketergantungan fisik dan psikis. Dibanding dengan sedatif yang sudah lama dikenal, ansietas tidak begitu banyak menimbulkan kantuk (Harkness, 1989).
Faktor-faktor Penyebab Ansietas
Ada beberapa penyebab ansietas, yang pertama adalah faktor biologis, termasuk faktor genetik, dan yang kedua adalah faktor psiko-sosial. Faktor biologis misalnya karena sakit, pengaruh hormonal atau depresi pasca-melahirkan. Sedangkan faktor psiko-sosial misalnya konflik pribadi atau interpersonal, masalah eksistensi atau masalah keluarga. Ansietas berupa gangguan perasaan cemas berlebih sering dianggap sebagai masalah pribadi dan bukan sebagai penyakit.
a) Faktor Pikiran
Orang yang selalu berfikir apa yang buruk nanti, padahal itu belum tentu dan bahkan biasanya tidak akan terjadi namun mereka mengurung diri mereka di bawah pengaruh ansietas atau kecemasan. ‘Dari pendekatan sosial, ansietas dapat disebabkan karena frustasi, konflik, tekanan, krisis, ketakutan yang terus menerus yang disebabkan oleh kesusahan dan kegagalan yang bertubi-tubi, adanya kecenderungan-kecenderungan harga diri yang terhalang, represi terhadap macam-macam masalah emosional, akan tetapi tidak bisa berlangsung secara sempurna(incomplete repress), atau dorongan-dorongan seksual yang tidak mendapat kepuasan dan terhambat, sehingga mengakibatkan banyak konflik batin’ (Fatimah, 2009).
b) Faktor TFR
Tidak semua ansietas yang mungkin dialami muncul dari pikiran yang buruk mengenai kemungkinan kelemahan-kelemahan pribadi atau kegagalan-kegagalan yang terungkap secara luas. Namun bisa saja terjadi TFR atau Toleransi Frustasi yang Rendah. Ide dasar dari TFR adalah sebagai berikut: ‘Hidup harus gampang dan berjalan sesuai dengan yang saya inginkan tanpa terlalu banyak kesulitan atau kekesalan; dan jika itu tidak terjadi, adalah mengerikan dan saya tidak tahan’. Jika memegang gagasan ini, maka kita berada dalam ‘jebakan nyaman’. Variasi yang tipikal dari gagasan ini adalah, “Saya harus merasa baik”, “Saya tidak boleh cemas”, Saya harus selalu sabar, tenang, dan terkendali”. Jika kita menganut pikiran ini, sudah terbukti bahwa kita akan mulai merasa tidak enak segera setelah memikirkan hal tersebut, dan hampir dapat dipastikan bahwa serangan ansietas akan terjadi, bahkan kita mencemaskan tentang keadaan cemas itu (Fatimah, 2009).
c)  Faktor Lingkungan
Seorang anak yang ibunya menderita ansietas maka anaknya cenderung meengalaminya pula, karena sang anak dapat mengenali dan merasakan apa yang dialami oleh sang ibu dan tentunya mempengarahi prilaku dan cara berpikir anak tersebut (Fatimah, 2009).
d) Faktor Biologis
Faktor biologis ansietas merupakan akibat dari reaksi syaraf otonom yang berlebihan (tonus syaraf simpatis meningkat) dan terjadi pelepasan katekholamine., sebagai contoh PMS atau Pre Menstrual Syndrome, disamping dapat terjadi gangguan fisik ternyata PMS juga dapat memunculkan ansietas, berupa gangguan mental seperti mudah tersinggung dan sensitif (Fatimah, 2009).
Dilihat dari aspek psikoanalisis kecemasan dapat terjadi akibat impuls-impuls bawah sadar (seks, agresi, dan ancaman ) yang masuk ke alam sadar. Mekanisme pertahanan jiwa yang tidak sepenuhnya berhasil dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang, displacement dapat mengakibatkan reaksi fobia, reaksi formasi, dan undoing dapat mengakibatkan gangguan obsesi kompulsif. Sedangkan ketidakberhasilan represi mengakibatkan gangguan panik. Dari pendekatan sosial, ansietas dapat disebabkan karena frustasi, konflik, tekanan atau krisis (Hidayat, 2007).
e) Faktor Psikologis
Sedangkan dari aspek psikoanalisis, ansietas dapat terjadi akibat impuls-impuls bawah sadar (seks, agresi, dan ancaman) yang masuk ke alam sadar, atau mekanisme pertahanan jiwa yang tidak sepenuhnya berhasil, dapat menimbulkan ansietas yakni reaksi fobia (Fatimah, 2009).
f) Faktor Penyakit
Ansietas juga timbul sebagai efek sekunder dari suatu penyakit, misalnya pasien yang menderita penyakit kanker ternyata juga sering menderita gangguan psikis seperti depresi, ansietas dan gangguan lainnya, ketakutan pasien akan penyakit yang dideritanya atau pun kesakitan fisik yang dialaminya dari suatu penyakit itulah yang menjadi penyebab timbulnya ansietas (Fatimah, 2009).
g) Faktor Penyalahgunaan Obat
Penyalahgunaan atau penggunaan obat/zat tertentu yang berlebihan juga merupakan salah satu penyebab utama ansietas. ”Seperti alkoholisme, intoksikasi kafein, hipertiroidisme, dan feokromositoma harus disingkirkan dalam mengatasi gejala ansietas ini” (Brust, 2007). Karena sebagian besar orang akan berlari ke hal-hal tadi untuk menghadapi ansietas yang timbul pada dirinya. Beberapa zat yang dapat menyebabkan ansietas anatara lain :
1.     Anti kompulsan (Carbamazepineethosuximide)
2.     Antihistamin
3.     Antimicrobials (Cephalosporins, ofloxacin, aciclovir, isoniazid)
4.     Bronchodilators (Theophyllines)
5.     Digitalis (pada level toksik)
6.     Oestrogen
7.      Levodopa
8.     Corticosteroids
9.     Tiroksin
10.                        Non-steroidal anti-inflammatory drugs(Indomethacin)
(Fatimah, 2009).
Berbagai studi berupaya mencari hubungan antara gangguan psikiatrik (cemas) dan penyalahgunaan zat. Itu terbukti antara keduanya ada hubungan yang kuat. Mayoritas peneliti setuju bahwa penyalahgunaan zat lebih pada mengikuti daripada mendahului onset gangguan psikiatrik (kecuali perilaku ). 60 – 80% remaja penyalahguna zat memiliki beberapa psikopatologi yang lain. Lebih kurang 20% remaja mengalami gangguan mental dan emosional yang memungkinkan mereka terlibat inisiasi dan penyalahgunaan zat (Hidayat, 2007).
h) Faktor Keturunan
Ansietas juga dapat disebabkan karena adanya pengaruh faktor genetik dari keluarga. Penelitian telah melaporkan bahwa duapertiga sampai tigaperempat pasien yang terkena ansietas memiliki sekurang-kurangnya satu sanak saudara derajat pertama dengan ansietas spesifik tipe spesifik yang sama (Brust, 2007).
Meskipun demikian masih banyak penyebab ansietas yang harus selalu dicari, untuk itu diperlukan analisis yang lengkap seperti asal timbulnya gejala dan matriks interpersonal dan social bermulanya gejala. Sama halnya dengan mekanisme depresi yang kompleks, penyebab gangguan ini hingga kini juga masih belum dapat ditentukan. Sejauh ini penyebabnya diduga berasal dari faktor biologi (keturunan), penyakit (gangguan) neurologi, efek samping pengobatan jangka panjang (pada reserpine atau beta blocker), penyalahgunaan obat seperti amphetamine serta adanya penyakit kronis dan stress psikososial (Fatimah, 2009).
Selain faktor-faktor di atas, ada beberapa faktor yang dikemukakan para ahli, yaitu:
a) Faktor predisposisi
Teori yang dikembangkan untuk menjelaskan penyebab ansietas adalah :
1.     Teori psikoanalitik
Menurut Sigmund Freud struktur kepribadian terdiri dari tiga elemen, yaitu id, ego, dan superego. Id melambangkan dorongan insting dan impuls primitif. Superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang, sedangkan ego atau aku digambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari id dan superego. Menurut teori psikoanalitik, ansietas merupakan konflik emosional yang terjadi antara id dan superego, yang berfungsi memperingatkan ego tentang sesuatu bahaya yang perlu diatasi (Wahid, 2008).
1.     Teori interpersonal
Ansietas terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal. Hal ini juga dihubungkan dengan trauma masa pertumbuhan seperti kehilangan, perpisahan yang menyebabkan seseorang menjadi tidak berdaya. Individu yang mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah untuk mengalami ansietas yang berat (Wahid, 2008).
1.     Teori prilaku
Ansietas merupakan hasil frustasi dari segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Para ahli prilaku menganggap ansietas merupakan sesuatu dorongan yang dipelajari berdasarkan keinginan untuk menghindarkan rasa sakit. Teori ini meyakini bahwa individu yang pada awal kehidupannya dihadapkan pada rasa takut berlebihan akan menunjukkan kemungkinan ansietas berat pada kehidupan masa dewasanya (Wahid, 2008).
1.     Kajian keluarga
Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga (Wahid, 2008).
1.     Kajian biologis
Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepin. Reseptor ini mungkin membantu mengatur ansietas. Selain itu kesehatan umum seseorang mempunyai predisposisi terhadap ansietas. Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor (Wahid, 2008).
b)  Faktor presipitasi
Faktor presipitasi ansietas dapat diklasifikasikan dalam dua jenis :
1.     Ancaman terhadap integritas biologik
Merupakan ancaman terhadap kebutuhan dasar manusia, seperti kebutuhan akan makanan, minuman, dan perumahan. Hal ini merupakan faktor umum penyebab ansietas.
1.     Ancaman terhadap rasa aman
Hal ini sulit digolongkan karena manusia unik. Ancaman keamanan diri meliputi ; (1) tidak tercapainya harapan, (2) tidak terpenuhinya kebutuhan akan status, (3) rasa bersalah atau pertentangan antara keyakinan diri dan prilaku, (4) tidak mampu untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain (Wahid, 2008).
c)  Pengkajian pada ansietas juga dilakukan pada tiga aspek yaitu :
1.     Aspek Fisiologis
Observasi status fisiologi klien dilakukan dengan mengidentifikasi respon sistem saraf otonom, khususnya saraf simpatik. Klien dengan ansietas mungkin terjadi peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, susah bernafas, rasa tercekik, mulut kering, rasa kembung pada perut dan nyeri, berkeringat pada telapak tangan dan tremor. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan fungsi adrenal, peningkatan glukosa dan menurunnya fungsi paratiroid, tingkat oksigen dan kalsium (Wahid, 2008).
1.     Aspek kognitif
Pengkajian pada fungsi kognitif mungkin didapatkan : susah untuk berkonsentrasi, menurunnya lapang persepsi, kurang perhatian terhadap hal yang kecil atau susah untuk memfokuskan fikiran. Pada tingkat ansietas ditentukan oleh luasnya gangguan pada fungsi kognitif (Wahid, 2008).
1.     Aspek emosi atau prilaku
Gangguan pada aspek emosi atau prilaku antara lain : mudah tersinggung, marah, menarik diri, merasa tidak berdaya, dan mudah menangis. Pengkajian pada reaksi afektif didapatkan dari keluhan klien. Klien mungkin menceritakan bahwa dirinya merasa gugup yang luar biasa, tegang, ketakutan, dan bingung (Wahid, 2008).
Gejala-gejala Ansietas
Setiap orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap stres tergantung pada kondisi masing-masing individu, beberapa simtom yang muncul tidaklah sama. Kadang beberapa diantara simtom tersebut tidak berpengaruh berat pada beberapa individu, lainnya sangat mengganggu. Gejala muncul biasanya disebabkan interaksi dari aspek-aspek biopsikososial termasuk genetik dengan beberapa situasi, stres atau trauma yang merupakan stressor munculnya gejala ini. Di sistem saraf pusat beberapa mediator utama dari gejala ini adalah. norepinephrine dan serotonin. Sebenarnya ansietas diperantarai oleh suatu sistem kompleks yang melibatkan sistem limbic, thalamus, korteks frontal secara anatomis dan norepinefrin, serotonin dan GABA pada sistem neurokimia, yang mana hingga saat ini belum diketahui jelas bagaimana kerja bagian-bagian tersebut menimbulkan ansietas (Ashadi, 2008).
Ansietas dan gangguannya dapat menampilkan diri dalam berbagai tanda dan gejala fisik dan psikologik seperti gemetar, renjatan, rasa goyah, nyeri punggung dan kepala, ketegangan otot, napas pendek, mudah lelah, sering kaget, hiperaktivitas autonomik seperti wajah merah dan pucat, takikardi, palpitasi, berkeringat, tangan rasa dingin, diare, mulut kering, sering kencing. Rasa takut, sulit konsentrasi, insomnia, libido turun, rasa mengganjal di tenggorok, rasa mual di perut dan sebagainya (Ashadi, 2008).
Beberapa teori membagi ansietas kedalam empat tingkat sesuai dengan rentang respon ansietas yaitu :
1. Ansietas ringan
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lapang persepsi meningkat dan individu akan berhati-hati dan waspada. Pada tingkat ini individu terdorong untuk belajar dan akan menghasilkan pertumbuhan dan ktreativitas.
Respon Fisiologis
– Sesekali nafas pendek
– Nada dan tekanan darah naik
– Gejala ringan pada lambung
– Muka berkerut dan bibir bergetar
Respon Kognitif
– Mampu menerima rangsang yang kompleks
– Konsentrasi pada masalah
– Menyelesaikan masalah secara efektif
Respon Perilaku dan Emosi
– Tidak dapat duduk tenang
– Tremor halus pada tangan
– Suara kadang – kadang meninggi (Anonim2, 2009).
2.  Ansietas sedang
Pada tingkat ini lapang persepsi terhadap lingkungan menurun. Individu lebih memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.
Respon fisiologik
– Sering nafas pendek
– Nadi dan tekanan darah naik
– Mulut kering
– Anorexia
– Diare / konstipasi
– Gelisah
Respon kognitif
– Lapang persepsi menyempit
– Rangsang luar tidak mampu diterima
– Berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya
Respon perilaku dan emosi
– Gerakan tersentak – sentak / meremas tangan
– Bicara banyak dan lebih cepat
– Susah tidur
– Perasaan tidak aman (Anonim2, 2009).
3.  Ansietas berat
Pada ansietas berat, lapang persepsi menjadi sangat menurun. Individu cenderumng memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan (Wahid, 2008).
4. Ansietas panik
Pada tingkat ini individu sudah tidak dapat mengontrol diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa lagi walaupun sudah diberi pengarahan (Wahid, 2008).
Respon fisiologik
– Palpitasi
– Jantung berdenyut keras
– Berkeringat
– Gemetar/menggigil
– Sensasi sesak nafas
– Merasa tersedak
-  Nyeri dada
-  Mual,pusing, pening
Respon kognitif
– Merasa tidak nyata (derealisas)
– Merasa terasing pada diri sendiri (depersonalisasi)
– Takut kehilangan kendali (menjadi gila dan mati)
Respon perilaku dan emosi
– Parentesia (sensasi kebas/kesemutan)
– Merasa tidak tegap
– Perasaan tidak nyaman (Anonim2, 2009).
Stressor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. Stressor pencetus dapat dikelompokkan dalam dua kategori :
1.     Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidak mampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktifitas hidup sehari– hari.
2.     Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang (Anonim2, 2009).

Antidepresan
Obat yang digunakan untuk pengobatan ansietas ialah sedatif atau obat-obatan yang secara umum memiliki sifat yang sama dengan sedatif. Antiansietas yang terutama ialah golongan benzodiazepin. Banyak golongan depresan SSP yang lain telah digunakan untuk sedasi siang hari pada pengobatan ansietas, namun penggunaannya saat ini telah ditinggalkan. Alasannya ialah obat-obat tersebut antara lain golongan barbiturat dan memprobamat, lebih toksik pada takar lajak (Defartik, 2007).
Antiansietas terbagi dua kelas: hipnosedatif dan sedatif otonomik. Hipnosedatif dapat digunakan pada dosis yang lebih tinggi sebagai pil tidur dan dosis yang lebih rendah untuk menghilangkan kecemasan. Semuanya dapat menyebabkan ketergantungan. Obat yang lebih tua, kecuali benzodiazepin, dapat digunakan untuk bunuh diri, lebih efektif sebagai antiansietas, dan bertahan lebih lama. Efek terapi dapat berlanjut beberapa jam setelah dosis tunggal, yang membuat obat ini berguna mengatasi gejala akibat penghentian konsumsi alkohol. Efek samping terutama adalah sedasi dan lebih jarang berupa malkoordinasi dan atau ataksia. Seperti penggunaan alkohol, dapat mengganggu proses mengemudi kendaraan. Pada dosis rendah, hal ini tentunya bukanlah masalah. Kadang, obat ini dapat menyebabkan pasien neurosis menjadi agresif dan cepat marah. Hal ini hampir sama dengan efek penggunaan alkohol sekalipun pada praktisnya dianggap tidak terlalu menimbulkan masalah (Mahmudin, 2000).
Sedatif otonomik lebih menyerupai antidepresan dan anti psikosis. Yang dapat mengurangi kecemasan jika diberikan dengan dosis rendah. Obat ini menyebabkan sedasi yang kurang menyenangkan dan sering menyebabkan penurunan aktivitas. Efek otonomik seperti mulut kering lebih sering muncul dan kadang kurang efektif dibandingkan dengan benzodiazepin (Mahmudin, 2000).
Keputusan untuk meresepkan suatu obat pada pasien dengan gangguan kecemasan campuran anxietas dan depresi hams jarang dilakukan pada kunjungan pertama. Karena sifat gangguan yang berlangsung lama, suatu rencana pengobatan hares dengan cermat dijelaskan. Dua golongan obat utama yang dipakai dalam pengobatan gangguan anxietas adalah Benzodiazepine dan Non-Benzodiazepine, dengan Benzodiazepine sebagai pilihan utama (Ashadi, 2008).
Beberapa efek samping penggunaan obat antiansietas, yaitu:
- Sedative (rasa mengantuk, kewaspadaan menurun, kerja psikomotorik menurun, dan kemampuan kognitif melemah)
- Rasa lemas dan cepat lelah
- Adiktif walaupun sifatnya lebih ringan dari narkotika. Ketergantungan obat biasanya terjadi pada individu peminum alkohol, pengguna narkoba (maksimum pemberian obat selama 3 bulan)
Penghentian obat secara mendadak memberikan gejala putus obat (rebound phenomenon) seperti kegelisahan, keringat dingin, bingung, tremor, palpitasi atau insomnia (Anonim1, 2009).
Golongan Benzodiazepin
Benzodiazepine (Diazepam). Benzodiazepin telah merupakan obat terpilih untuk gangguan kecemasan umum. Benzodiazepin dapat diresepkan atas dasar jika diperlukan, sehingga pasien menggunakan benzodiazepin kerja cepat jika mereka merasakan kecemasan tertentu. Pendekatan alternatif adalah dengan meresepkan benzodiazepin untuk suatu periode terbatas, selama mans pendekatan terapetik psikososial diterapkan (Defartik, 2007).
Benzodiazepin yang dianjurkan sebagai antiantisietas ialah: klordiazepoksid, diazepam, oksazepam, klorazepat, lorazepam, prazepam, alprazolam dan halozepam. Sedangkan klorazepam dianjurkan untuk  pengobatan panic disorder (Defartik, 2007).
Contoh Antiansietas : Alprazolam, Diazepam, Clobazam, Lorazepam
a.    Farmakodinamik. Klordiazepoksid dan diazepam merupakan prototip derivat benzodiazepin yang digunakan secara meluas sebagai antiansietas.
b.    Mekanisme kerja. Mekanisme kerja benzodiazepin merupakan potensial inhibisi neuron dengan GABA sebagai mediatornya. Efek farmakodinamik derivat benzodiazepin lebih luas daripada efek meprobamat dan barbiturat. Klordiazepoksid tidak saja bekerja sentral, tetapi juga perifer pada susunan saraf kolinergik, adrenergik dan triptaminergik (Defartik, 2007).
Klordiazepoksid lebih berguna untuk mengatasi sifat agresif hewan coba (monyet) daripada penobarbital, meprobamat dan CPZ. Berbeda dengan CPZ, klordiazepoksid dan diazepam bersifat nonselektif dalam menghambat respon terkondisi. Setelah pemberian per oral, klordiazepoksid mencapai kadar tertinggi dalam 8 jam dan tetap tinggi sampai 24 jam. Ekskresi klordiazepoksid melalui ginjal lambat; setelah pemberian satu dosis, obat ini masih ditemukan dalam urin beberapa hari (Defartik, 2007).
c.    Efek Samping dan Kontraindikasi. Pada penggunaan dosis terapi jarang menimbulkan kantuk; tetapi pada takar lajak benzodiazepin menimbulkan depresi SSP. Efek samping akibat depresi susunan saraf pusat berupa kantuk dan ataksia merupakan kelanjutan efek farmakodinamik obat-obat ini. Efek antiansietas diazepam dapat diharapkan terjadi bila kadar dalam darah mencapai 300-400 ng/mL; pada kadar yang sama terjadi pula efek sedasi dan gangguan psikomotor. Intoksikasi SSP yang menyeluruh terjadi pada kadar di atas 900-1.000 ng/mL. Kadar terapi klordiazepoksid mendekati 750-1.000 ng/mL (Defartik, 2007).
Peningkatan hostilitas dan iritabilitas dan mimpi-mimpi hidup (vivid dreams) dan mengganggu kadang-kadang dikaitkan dengan pemberian benzodiazepin, mungkin dengan kekecualian oksazepam. Hal yang ganjil adalah sesekali terjadi peningkatan ansietas. Respon semacam ini rupa-rupanya terjadi pada pasien yang merasa ketakutan dan terjadi penumpulan daya pikir akibat efek samping sedasi  antiansietas. Dapat ditambahkan bahwa salah satu penyebab yang paling sering dari keadaan bingung yang reversibel pada orang-orang tua dalah pemakaian yang berlebihan berbagai jenis sedatif, termasuk apa yang biasanya disebut sebagai benzidiazepin “dosis kecil”. Efek yang unik adalah perangsangan nafsu makan, yang mugkin ditimbulkan oleh derivat benzodiazepin secara mental (Defartik, 2007).
Umumnya, toksisitas klinik benzodiazepin rendah. Bertambahnya berat badan, yang mungkin disebabkan perbaikan nafsu makan terjdi pada beberapa pasien. Banyak efek samping yang dilaporkan untuk obat ini tumpang tindih dengan gejala ansietas, oleh karena itu perlu anamnesis yang cermat untuk mengetahui apakah yang dilaporkan adalah benar sustu efek samping atau gejala ansietas. Diantara reaksi toksik klordiazepoksid yang dijumpai adalah rash, mual, nyeri kepala, gangguan fungsi seksual, vertigo, dan kepala rasa ringan. Agranulositosis dan reaksi hepatik telah dilaporkan, namun jarang. Ketidakteraturan menstruasi dilaporkan terjadi dan wanita yang sedang menggunakan benzodiazepin dapat mengalami kegagalan ovulasi (Defartik, 2007).
Obat ini sering digunakan untuk percobaan bunuh diri oleh pasien dengan mental yang labil, tetapi intoksikasi benzodiazepin biasanya tidak berat dan tidak memerlukan terapi khusus. Beberapa kematian pernah dilaporkan dengan dosis di atas 700 mg klordiazepoksid atau diazepam. Tidak jelas apakah hanya karena obat ini, kombinasi dengan antidepresi lainnya atau kondisi tertentu pasien. Derivat benzodiazepin sebaiknya jangan diberikan bersama alkohol, barbiturat atau fenotfazin. Kombinasi ini mungkin menimbulkan efek depresi yang berlebihan. Pada pasien gangguan pernafasan benzodiazepin dapat memperberat gejala sesak nafas (Defartik, 2007)
d.    Indikasi dan sediaan. Derivat benzodiazepin digunakan untuk menimbulkan sedasi, menghilangkan rasa cemas dan keadaan psikosomatik yang ada hubungan dengan rasa cemas. Selain sebagai ansietas, derivat benzodiazepin digunakan juga sebagai hipnotik, antikonvulsi, pelemas otot dan induksi anestesi umum. Sebagai ansietas, klordiazepoksid dapat diberikan secara oral atau bila sangat diperlukan suntikkan, suntikan dapat diulang 2-4 jam dengan dosis 25-100 mg sehari dalam 2 atau 4 pemberian. Dosis diazepam adalam 2-20 mg sehari; pemberian suntikan dapat diulang 3-4 jam. Klorazepat diberikan sebagai oral 30 mg sehari dalam dosis terbagi. Klordiazepoksid tersedia sebagai tablet 5 dan 10 mg. Diazepam berbentuk tablet 2 dan 5 mg. Diazepam tersedia sebagai larutan untuk pemberian rektal pada anak dengan kejang demam (Departik, 2007).
Untuk pengobatan kecemasan, biasanya memulai dengan obat pada rentang rendah terapetiknya dan meningkatkan dosis untuk mencapai respon terapetik. Pemakaian benzodiazepin dengan waktu paruh sedang (8 sampai 15 jam) kemungkinan menghindari beberapa efek merugikan yang berhubungan dengan penggunaan benzodiazepin dengan waktu paruh panjang. Pemakaian dosis terbagi mencegah perkembangan efek merugikan yang berhubungan dengan kadar plasma puncak yang tinggi. Perbaikan yang didapatkan dengan benzodiazepin mungkin lebih dan sekedar efek antikecemasan. Sebagai contohnya, obat dapat menyebabkan pasien memandang berbagai kejadian dalam pandangan yang positif. Obat juga dapat memiliki kerja disinhibisi ringah, serupa dengan yang dilihat setelah sejumlah kecil alkohol. Untuk diazepam sediaan tab. 2-5mg, ampul 10 mg/2cc dosis anjuran l0-30mg/hari 2-3xsehari, i.v./i.m 2-10mg /3-4 jam (Ashadi, 2008).
Non-Benzodiazepine (Buspiron)
Buspiron merupakan contoh dari golongan azaspirodekandion yang potensial berguna dalam pengobatan ansietas. Semua golongan obat ini dikembangkan sebagai antipsikosis. Buspiron memperlihatkan farmakodinamik yang berbeda dengan benzodiazepine, yaitu tidak memperlihatkan aktivitas GABA-ergik dan antikonvulsan, interaksi dengan antidepresi susunan saraf pusat minimal. Buspiron merupakan antagonis selektif reseptor serotonin (5-HTIA); potensi antagonis dopaminergiknya rendah, sehingga resiko menimbulkan efek samping ekstrapiramidal pada dosis pengobatan ansietas kecil (Departik, 2007).
Studi klinik menunjukkan, buspiron merupakan ansietas efektif yang efek sedatifnya relatif ringan. Diduga resiko timbulnya toleransi dan ketergantungan juga kecil. Obat ini tidak efektif pada panic disorder. Efek antiansietas baru timbul setelah 10-15 hari dan bukan antiansietas untuk penggunaan akut. Tidak ada toleransi silang antara buspiron dengan benzodiazepin sehingga kedua obat tidak dapat saling menggantikan (Departik, 2007).
Buspiron kemungkinan besar efektif pada 60 sampai 80 persen pasien dengan gangguan cemas. Data menyatakan bahwa buspiron adalah lebih efektif dalam menurunkan gejala kognitif dari gangguan kecemasan umum dibandingkan dengan menurunkan gejala somatik. Bukti-bukti juga menyatakan bahwa pasien yang sebelumnya telah diobati dengan benzodiazepin kemungkinan tidak berespon dengan pengobatan buspiron. Tidak adanya respons tersebut mungkin disebabkan oleh tidak adanya efek nonansiolitik dari benzodiazepin (seperti relaksasi otot dan rasa kesehatan tambahan), yang terjadi pada terapi buspiron. Namun demikian, rasio manfaat-risiko yang lebih balk, tidak adanya efek kognitif dan psikomotor, dan tidak adanya gejala putus that menyebabkan buspiron merupakan obat lini pertama dalam pengobatan gangguan kecemasan umum. Kerugian utama dari buspiron adalah bahwa efeknya memerlukan dua sampai tiga minggu sebelum terlihat, berbeda dengan efek ansiolitik benzodiazepin yang hampir segera terlihat. Buspiron bukan merupakan terapi efektif untuk putus benzodiazepin. Sediaan tab. 10mg dosis anjuran 3×25mg/h (Ashadi, 2008).
Interaksi Obat Ansietas
Interaksi Obat pada Gelisah dan Cemas / Ansietas
1.  Trankulansia (semua jenis) – Depresan lain
Trankulansia adalah depresan susunan saraf pusat. Obat akan menekan atau mengganggu fungsi seperti koordinasi dan kewaspadaan. Penekanan yang berlebihan dan gangguang fungsi dapat terjadi bila suatu trankulansia diberikan bersamaan dengan depresan susunan saraf lainnya. Akibatnya : mengantuk, pusing, hilang koordinasi otot dan kewaspadaan mental; dalam kasus berat terjadi gangguan peredaran darah dan fungsi pernapasan yang menyebabkan koma dan kematian (Harkness, 1989).
Kelompok depresan yang berinteraksi dengan trankulansia adalah antikolinergik, antikonvulsan, antidepresan (jenis siklik), antihistamin, antipsikotika, fenfluramin, antihipertensi, pelemas otot, narkotika, propoksifien, sedative (Harkness, 1989).
2.  Golongan benzodiazepin – Obat asma (golongan Teofilin)
Efek obat asma dapat berkurang. Obat asma digunakan untuk membuka jalan udara di paru-paru dan untuk mempermudah pernapasan penderita asma, sedangkan benzodiazepin melemaskan otot sehingga otot tidak dapat berfungsi dengan baik. Akibatnya asma tidak sembuh sempurna (Harkness, 1989).
3.  Benzodiazepin – pil KB
Efek pil KB dapat berkurang. Akibatnya : resiko hamil meningkat kecuali jika digunakan cara kontrasepsi lain. Perdarahan sekonyong-konyong adalah gejala kemungkinan terjadi interaksi. Efek beberapa trankulansia dapat meningkat (klordiazepoksid, diazepam); efek trankulansi benzodiazepine lainnya dapat berkurang (Harkness, 1989).
4.  Benzodiazepin – simetidin (Tagamat)
Efek trankulansia dapat meningkat. Akibatnya timbul efek samping yang merugikan karena terlalu banyak trankulansia. Gejalanya berupa sedasi berlebihan, mengantuk, pusing, hilang koordinasi otot dan kewaspadaan mental; pada kasus berat terjadi gangguan perdarahan dan fungsi pernapasan yang menyebabkan koma dan kematian. Lorazepam dan oksazepam tidak berinteraksi (Harkness, 1989).
5.  Benzodiazepin – estrogen (hormone wanita)
Efek estrogen dapat meningkat. Estrogen digunakan untuk mengatasi kekurangan estrogen selama haid dan sesudah histerektomi, untuk mencegah pembengkakan payudara yang nyeri sesudah melahirkan karena ibu tidak menyusui bayinya, dan untuk mengobati amenore. Akibatnya kondisi yang sedang diobati mungkin tidak terobati dengan baik. Efek beberapa trankulansia dapat meningkat (klordiazepoksid, diazepam); efek trankulansi benzodiazepine lainnya dapat berkurang (Harkness, 1989).
6.  Benzodiazepine – Levodopa
Efek levodopa dapat berkurang karena levodopa digunakan untuk mengobati penyakit Parkinson (antikolinergik). Akibatnya kondisi yang dialami mungkin tidak terkendali dengan baik. Interaksi yang terjadi hanyalah pada turunan diazepam, tetapi benzodiazepine lainnya mungkin menunjukkan interaksi yang sama (Harkness, 1989).
7.  Benzodiazepin – Rifampin
Efek trankulansia dapat berkurang. Akibatnya kegelisahan dan kecemasan mungkin tidak hilang sebagaimana yang diharapkan. Trankulansia turunan lorazepam dan oksazepam mungkin tidak berinteraksi (Harkness, 1989).
8.  Hidrokzin – Antikolinergika
Kombinasi ini menimbulkan efek samping antikolinergik yang berlebihan. Akibatnya penglihatan kabur, mulut kering, sembelit, palpitasi jantung, bicara tidak jelas, sulit kencing, rangsangan pada lambung, mungkin keracunan psikosis (agitasi, nanar, meracau). Beberapa antikolinergik menimbulkan efek samping yang berlebihan. Akibatnya mengantuk, pusing, hilang koordinasi otot dan kewaspadaan mental; pada kasus berat terjadi gangguan perdarahan darah dan fungsi pernapasan yang menyebabkan kematian dan koma (Harkness, 1989).
Interaksi obat turunan benzodiazepine
1.     Diazepam
a.  Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol.
b. Eliminasi dihambat oleh cimetidin, dizulfiram, INH, kontrasepsi oral.
c. Eliminasi dipercepat oleh rifampicin dan obat penginduksi enzim lainnya.
2.  Alprazolam
a.  Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol.
b. Eliminasi dihambat oleh cimetidin, dizulfiram, INH, kontrasepsi oral.
c. Eliminasi dipercepat oleh rifampicin dan obat penginduksi enzim lainnya.
3.  Bromazepam
a.  Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol.
b. Eliminasi dihambat oleh cimetidin, dizulfiram, INH, kontrasepsi oral.
c. Eliminasi dipercepat oleh rifampicin dan obat penginduksi enzim lainnya.
4.  Chlordiazepoksid
1.     Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol
2.     Eliminasi dihambat oleh cimetidin, dizulfiram, INH, kontrasepsi oral.
3.     Eliminasi dipercepat oleh rifampicin dan obat penginduksi enzim lainnya.
4.     Kontrasepsi oral, alcohol, dan heparin menurunkan ikatan protein plasma pada chlordiazepoksid.
5.  Clonazepam
1.     Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol.
2.     Eliminasi dihambat oleh cimetidin, dizulfiram, INH, kontrasepsi oral.
3.     Eliminasi dipercepat oleh rifampicin, phenytoin, Phenobarbital, dan obat penginduksi enzim lainnya.
6.  Clorazepat
a. Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol.
b.Pemberian bersama dengan antikonvulsi dan merokok mempercepat eliminasi.
c. Pemberian bersama dengan antasida dan H2-Bloker menghambat reabsorbsi
d. Pemberian bersama dengan cimetidin dapan menghambat pemecahannya.
7.  Flunitrazepam
a.  Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol.
b.  Eliminasi dipercepat bila ada induksi enzim
8.  Lorazepam
1.     Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol.
2.     Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim.
3.     Pada pemberian bersama dengan pyremethamin, dilaporkan terjadi tes fungsi hati yang patologik.
9.  Lormetazepam
a.   Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol.
b.  Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim
10.Midazolam
a.  Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol.
b.  Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim
11.Nitrazepam
a.  Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol.
b.  Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim
12.Oxazepam
a.  Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol.
b.  Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim
13.Temazepam
a.  Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol.
b.  Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim
14.Triazolam
a.  Peningkatan efek oleh obat – obat penekan SSP lain dan alcohol.
b.  Eliminasi dipercepat dengan adanya induksi enzim
(Harkness, 1989).
Terapi Non farmakologi
Terapi pertama yang disarankan untuk penderita AD adalah dengan terapi non-farmakologi (terapi tanpa menggunakan obat-obatan), pilihan terapi non-farmakologi yang dapat dilakukan antara lain:
1. Supportive/ Dinamic Psycotherapy
Yaitu terapi berkomunikasi dengan pasien dengan memberikan perhatian langsung terhadap pasien
2. Terapi kognitif
Pasien akan diajak memecahkan masalah-masalah menjadi beberapa bagian:
– Masalah sebagaimana orang melihatnya
– Pikiran seseorang mengenai masalah tersebut
– Emosi seseorang yang mengelilingi masalah tersebut
– Perasaan fisik seseorang pada saat itu
– Tindakan seseorang sebelum, selama, dan setelah masalah muncul
3. Terapi Behavioral
Konseling behavioral yang memfokuskan pada kegiatan (tindakan) yang dilakukan pasien.
4. Relaxation Training
Meningkatkan pemahaman tentang variabilitas dan signifikasi klinis hasil reduksi kecemasan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar